skip to main |
skip to sidebar
~*Cinta Istri Sholeha *~
21.42 |
Di
Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam
mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya
untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu
musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan
ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri
kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya
kepada-Nya.
Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang
bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan
ketulusan hatinya.
Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk
meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah
shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana
adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas
malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad
nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya
ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak
keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah
pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia
bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya
ditolak.
Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.
Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai.
Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai
hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa
baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para
undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu
cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari
wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh
beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian
suci, beriman dan shalihah.
Jam mulai mendekati angka dua
belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya.
Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam
perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama
harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan
keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.
Setibanya disana, sang
istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia
rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah
akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan
shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh
ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.
Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang
bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar.
Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya
Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya
tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan
orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala
angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air
matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala
kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah
yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”
Ia menatap suaminya
dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa
kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap
baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk
hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada
suaminya melalui tangannya.
Mereka mulai terlibat perbincangan,
meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus
berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona
kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti
pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan
ada wanita secantik ini di dunia ini.”
0 komentar:
Posting Komentar